Anda sedang berada dalam laman Kumpulan Sajak Pendek Terbaru. Selamat membaca, guys.

Bagi sebagian orang Sajak adalah perasaan terpendam yang diluahkan dalam bentuk kata. Tapi taukah kalian kalau sajak itu adalah bagian dari seni dalam bentuk sastra; baik secara tertulis ataupun secara lisan. Tapi kali ini saya tidak akan membahas itu. Melainkan langsung pada hasil dari sajak itu sendiri.

Sebelumnya Saya ucapkan terimakasih untuk sosok yang telah banyak menginspirasi, Sosok yang betapa dalam aku berlayar ke dasar hatinya. Terimakasih S-A-M-U-D-R-A. Kau takkan terganti.

“Tak kira seberapa narsisnya aku dalam sajakku ini. Sebab dunia sudah pun tau yang aku berjanji. Jika teringkari, berarti kau telah mati.”

“Pada Akhirnya, kau hanyalah sekuntum mawar yang lepas dari dahannya. Yang kemudian jatuh ke tepian sungai yang dalam”

“200 karakter dalam kotak ini, hanya cukup menyajakkan tentang sepi yang kian menepi “

“Pada saat nanti, kan ku pinang engkau dengan indahnya malam ini. Sebab; sajakku telah pun usang untuk mencintaimu lagi”

“Tak apa dengan sunyi, sebab dengan hujan akan hadir si pelangi…”

“Kelak, akan ada saatnya waktu memanggilku pulang, membiarkan hujan mengalir dengan derasanya. Tanpa henti, tanpa aku peduli. “

“Kirana; nama lain dari Aal Somka. Tapi punyaku sungguh berbeda. Lalu, siapa maksudnya?  Dialah sebuah nama, yang bercahaya, bak shafir di gurun afrika. Itulah dia, yang selalu memanggilku Deyde Pesulap Kata. Dulunya”

“Ketawa tak semestinya bercanda, jika cinta adalah ungkapan, maka diam adalah pembuktian”

“Jika tuhan memberiku pilihan, aku mau mati, setelah itu hidup lagi, dan mencintaimu lagi, Aini”

“Terserah senja memaknai kata, seumpama pagi yang menggelamkan malamnya”

“Pagi, segelintir kenangan berterbangan. Hiasi langit yang di tinggalkan malam, termasuk waktu [kita], yang sudah lama terlupakan.”

“Hanya sebatas kata, tapi tak dapat ku teka. Begitulah aku mencintaimu, seperti bayangan yang menari di balik kaca”

“Dibalik hujan yang datang, malam membisikkan rindunya pada angin. Seperti rasaku padamu, yang aromanya menyentuh dasar kalbu”

“Sajak ini, Tak perlu kau mengerti. 

Sajak bukan sekedar kata tanpa tujuan. 

Jika kau mau, mari kita berpelukan (pacaran)”

“Tak ada topeng ku pakai, hanya sebatas kata, yang tak dapat kau terjemahkan”

“Dear..; Tak usah berpura-pura, malam itu aku telah menelanjangimu; pada setetes aimata yang jatuh tanpa kata”

“Biar ku jelaskan rinduku padamu; aku diam, kau membisu. Bagaimana mungkin mingguku indah tanpa hadirmu“

“Seharusnya cinta meniadakan waktu. SEBab tiap-tiap jam yang menangis tak akan mengenang masalalu”

“Kenapa harus rindu, jika bayangann tentangmu masihlah utuh, di kepalakau. Pergilah…..!!!”

“Aku rela mati. Asal kau mengunjungi kuburku; tiap hari, tanpa henti”

“Lima empat tiga Hujan turun perlahan. Jari-jari semakin liar. Menata kata bak sastrawan”

“Buatlah satu permintaan. Cinta; untuk ku perjuangkan, untuk ku doakan”

“Hujan semakin deras

Langkahku makin terjejas. Ku coba melihat sekilas. Ternyata cintaku kandas”

“Ada yang berharap pada malam. Sementara kenanganan telah pun ku buang, ke dasar lautan nan dalam”

“Dalam gelap yang menerpa, cahaya bintang jatuh dalam diam. Kau pun hilang; pergi, sepi tak berarti”

“Banyak yang kita tinggal, termasuk juga kenangan. Semoga saja malam tak jadi pecundang”

“Bukan setekat datang; lalu pergi, tanpa sebuah memori” 

“Meski menyendiri, tak berarti aku sepi, hanya saja, sajak ini yang mampu mengerti dengan keadaan malam ini” — Ana

“Terimakasih untukmu, yang telah memberiku tanggung jawab pada rindu yang tak ku pinta”

“Di gelap malam yang menggigil. Ku doakan tiap jiwa yang terlena. Mimpikan indah, hadirkan pagi bersama senyum sang mentari”

“333 hanya sebatas angka. Tukang koran membaca syair bak pujangga, sementara rindu masih bermain dengan airmata”

pesulap kata

“Tak usah kau malu. Sapa aku jika kau mau. Tapi sekarang aku tak mau diganggu”

“Letakkan penamu. Bergegaslah ke ujung sana. Temui aku, peluk aku. Karena nafasku habis tanpa hadirmu”

“Pada anak tangga ketujuh. Kau sapa aku dengan sajakmu. Bisikkan kata yang tak biasa. Ternyata semua menjadi luka “

 “410 kilometer jarak waktuku denganmu. Tak perlu kau ragu.  jika kau mau, Malam ini aku siap melamarmu”

“Pada dinding yang menangis, aku bersandar pada sepi; pada setiap dingin yang terpancar dari keningmu”

“Panggil aku Puisi. Sebab semuanya berdiam disana; termasuk kita, yang berteduh di bawah kata-kata”

“Ada dua penghalang antara pertemuanku dengamu. Pertama waktuku, dan keraguanmu yang masih membeku”

“Sajakku; tak perlu kau mengerti. Sebab aku membuatnya agar dapat di nikmati. Persis segelas kopi pagi ini”

“Kau tau, betapa sulitnya merangkai satu baris sajak pasca kepergianmu. Asal tau aja, aku seorang yang tangguh, yang rapuh di depanmu”

“Pada cinta yang diketepikan waktu. Bagaiamana mungkin, aku menghindar dari dari bayangan tentangmu, yang datang tiba-tiba tanpa rasa ragu”

“Selain SAMUDRA, dari siapa sajak ini tercipta. Hanya sepi, dan mati yang mengekalkan imajinasiku ini.”

Demikian adalah artikel mengenai Kumpulan Sajak-Sajak Pendek Terbaru. Jika artikel ini membantu, silahkan share atau bagikan ya, guys.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here